Halaman

Tampilkan postingan dengan label Kisah nyata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah nyata. Tampilkan semua postingan

Senin, 20 Juni 2011

Aku Dituduh Kurir Narkoba

            Kisah ini dialami oleh Anwar (51 tahun), sopir antarpropinsi Jawa-Sumatera. Suatu ketika tanpa diduga ia harus berurusan dengan polisi karena ada kiriman barang yang ternyata barang itu adalah narkoba. Ia terpaksa diintererogasi polisi karena diduga sebagai kurir. Meski sudah berulangkali mengelak, namun polisi itu sempat menahan dan minta jaminan. Untung saja ia, ia mempunyai nomor HP pemilik barang itu, sehingga dengan polisi berusaha mencari pemilik barang haram itu. Bagaimana kisah selanjutnya, Kuswari mengisahkannya:

            SEBAGAI sopir bus  antanpropinsi Jawa-Sumatera sudah terbiasa menerima titipan barang untuk disampaikan ke Medan. Ketika  itu, aku menerima titipan barang yang terbungkus kardus dan plastik secara rapi dari bagian administrasi perusahaan, lalu kusimpan tidak jauh dari tempatku menyetir. Jelas disitu tercantum nomor HP pemilik barang itu. Aku sendiri sudah memegang alamat yang akan kutuju. Aku hapal alamat itu. Tugasku hanya mengantarkan barang itu, nanti di tempat itu akan ada yang mengambilnya.  Kurasa tugasku sangat ringan dan sudah terbiasa mengantarkan barang seperti itu.
            Kupikir barang itu biasa-biasa saja, paling juga kaset atau VCD, aku tidak memikirkan lebih jauh tentang barang itu. Tak kukira barang itu menjadi malapetaka yang sama sekali tidak terlintas dalam benakku. Selama perjalanan aku tenang-tenang saja, toh aku sudah terbiasa mengantarkan barang semacam itu. Minggu yang lalu saja aku mengantarkan barang yang lebih besar dari itu.
            Sebagai sopir aku sudah terbiasa dengan pemeriksaan yang dilakukan oleh polisi.  Ketika kendaraan bus sudah masuk ke wilayah Medan, waktu sudah sore, di ujung jalan kulihat ada beberapa orang polisi yang berdiri, tengah memeriksa. Rupanya polisi di Medan sedang merazia semua kendaraan dan memeriksa barang yang dibawa setiap penumpang. Aku tenang saja, sebab razia sudah biasa lagi buatku.
            Ketika dua orang polisi berseragan masuk ke dalam kendaraan, mereka langsung memeriksa semua penumpang dan membuka barang-barang di bawa. Menurut mereka, pemeriksaan ini harus dilakukan secara ketat karena  dari Jawa banyak sekali narkoba yang beredar di Medan.
            Cukup lama dua orang polisi itu memeriksa semua barang yang ada pada penumpang. Meski kesal harus menunggu, namun aku sabar. Ketika dia mendekati kearahku, salah seorang polisi yang masih muda menanyakan barang  yang disimpan tidak jauh dariku,
            “Coba lihat barang itu…itu barang siapa?” tanya polisi seraya menunjuk kepada barang titipan yang akan aku sampaikan.
            “Barang titipan Pak, akan aku sampaikan kepada nomor HP ini,” kataku seraya menunjuk nomor  yang tercantum di situ. Aku memberikan barang itu.
            “Aku periksa dulu barang itu,” kata polisi seraya membawa barang itu keluar bus. Aku tenang saja, tidak ada kecurigaan sedikit pun. Lama aku menunggu barang itu. Sementara para penumpang sudah mulai kesal dan gelisah, karena pemeriksaan berlangsung cukup lama.
            Tiba-tiba polisi yang membawa barang itu naik ke bus dan meminta agar aku mengikuti ke kantor polisi,
            “Lho memangnya ada apa Pak?” aku heran dan tidak mengerti.
            “ Kamu harus diperiksa dulu, ayo kamu ikut aku ke kantor polisi,” ucapnya. Aku pun segera mengikuti polisi turun dari bus. Aku tidak merasa curiga sedikit pun. Sudah  biasa aku berhadapan dengan polisi, bukan satu kali ini saja.
            Aku dibawa ke kantor polisi, sementara kulihat para penumpang gelisah ingin segera berangkat.
            Di kantor  polisi, aku diinterogasi secara mendalam.
            “Darimana kamu mendapatkan barang itu?” tanya  polisi seraya menatapku tajam sekali dan kesan yang kutangkap ada kecurigaan terhadapku.
            “Aku hanya mengantarkan barang itu dari perusahaan…nomor HP nya kan ada di situ,”
            “Coba kamu hubungi nomor HP ini dan hubungi pula  kantor perusahaan kamu…kamu  terpaksa ditahan di sini,”
            “Memangnya barang itu apa sih Pak?” aku penasaran ingin tahu barang itu.
            “Barang ini sangat berbahaya. Barang ini narkoba!” katanya.
            Seketika aku hanya bengong, mataku terbelalak, nyaris tidak percaya apa yang dikatakan Polisi barusan. Narkoba, wah urusan dengan narkoba akan menjadi masalah besar bagiku, bahkan aku terus ditanya mendetail tentang barang itu.
            “Pak aku akan menelepon HP yang tercantum di barang itu. Aku bersumpah, itu milik yang punya HP ini,” kataku seraya menelepon pemilik barang itu. Beberapa kali aku kontak namun tidak diangkat-angkat, tentu saja aku cemas dan ketakutan, sebab kalau tidak ada yang mengakui barang itu, maka aku akan menjadi tersangka sebagai pembawa barang itu.
            Polisi menatapku saat aku sedang mengontak pemilik barang itu. Beberapa kali aku menghubungi, tidak ada jawaban, baru kemudian setelah agak lama, kontakku tersambung dengan pemilik barang itu. Aku gembira, sebab dengan jawaban itu aku sudah dapat memberikan argumentasi yang kuat bahwa barang itu bukan milikku atau aku sebagai kurir.
            “Pak dimana aku sampaikan barang ini?” tanyaku.
            “Oh..ya..ya nanti akan ada yang mengambil. Berhenti saja di sebuah jalan Gatot Subroto dekat perempatan yang agak sepi…nanti akan ada yang mengambil!”  kata suara di HP ini. Aku segera mencatat alamat secara lengkap, lalu kuberikan kepada polisi.
            “Nah kalau begitu, maka aku akan menyamar untuk menangkap pemilik barang itu bersama-sama dengan kamu.  Namun kamu tetap harus menyimpan jaminan ke polisi uang sebesar  lima juta rupiah…” katanya.
            Aku tak bisa menolak, terpaksa aku menyampaikan hal itu kepada pimpinan bus yang ada di Bandung. Pimpinan rupanya memahami kondisi yang dihadapi olehku, sehingga menyetujuinya, daripada bus akan diamankan di kantor polisi dan penumpang disuruh turun.   
            Semua penumpang nampak marah, namun polisi segera memberitahukan kalau masalah yang dihadapi oleh sopir sangat berat, sebab membawa barang yang dilarang pemerintah. Setelah ada penjelasan dari polisi, maka kendaraan bus bisa melaju kembali .
            Polisi mengikuti dari belakang dengan kendaraan kijang, sementara barang  itu dibungkus rapih kembali dan di simpan di tempat semula. Kendaraan terus melaju ke terminal yang ada di Medan yang jaraknya masih sangat jauh.
            Di Terminal semua penumpang turun. Aku segera melajukan kembali kendaraan menuju sebuah tempat  untuk menyampaikan barang haram itu. Aku menjadi kesal dan marah, sebab barang itu menjadi masalah yang runyam.Kalau tidak ada yang mengambil terhadap barang itu, sudah dipastikan aku akan dituduh sebagai tersangka dan harus berhadapan dengan huku,
            Selama perjalanan aku terus berdoa, agar pemilik barang ini mengambilnya di tempat yang sudah disebutkan tadi. Kulihat dibelakang polisi yang berpakaian preman terus mengintaiku. Mereka tampak sangat waspada, apalagi ketika aku turun di sebuah perempatan jalan yang agak sepi. Aku kembali menelepon, dan langsung ada jawaban untuk menunggu di jalan itu, sebab akan ada yang mengambil.
            Aku  berdiri di sebuah jalan. Memang waktu sudah hampir malam dan jarang sekali ada kendaraan yang lewat. Aku menunggu dengan berdebar-debar sebab kalau barang itu tidak ada yang memgambil, maka risikonya akulah yang harus ditahan.
            Lama sekali aku menunggu di tempat itu dengan perasaan gelisah. Kulihat beberapa kali polisi di kendaraan kijang terus mengawasiku dengan cermat. Dua orang polisi berpakaian preman itu sudah bersiap-siap akan menangkap yang mengambil barang itu.
            Tidak lama kemudian, ada dua orang perempuan masih muda mengenakan kerudung mendekatiku dan menanyakan barang yang dimaksud. Aku gembira melihat kedatangan mereka. Segera saja aku berikan barang itu setelah terlebih dahulu seorang wanita menandatangani tanda terima.
            Selesai menandatangani, dua orang polisi rupanya sudah bersiap-siap sejak tadi. Maka ketika aku sudah memberikan barang itu dan dua wanita itu akan pergi, langsung saja kedua polisi mengangkat pistol. Kedua wanita itu  langsung shock dan tubuhnya bergetar ketakutan, wajahnya pucat pasi menghadapi dua orang polisi yang sama sekali tidak terduga itu.
            Aku kasihan melihat dua orang wanita itu. Masih terlihat kedua wanita itu tak berkutik tatkala polisi menangkapnya. Mereka tak bisa berkata apa-apa, sebab barang bukti narkoba sudah ada ditangannya. Aku bergegas naik ke bus, dan segera menghidupkan kendaraan untuk kantor polisi mengambil uang jaminan dan berita acara tentang narkoba.
            Tiba di kantor polisi, aku segera menghadap bagian  narkoba untuk menyelesaikan masalah barang yang sudah diantarkan. Namun pihak polisi tidak segera memberikan uang jaminan, malah menyuruh aku untuk segera saja ke Bandung.
            “Uang jaminan, nanti saja diselesaikan, sebab kamu harus menjadi saksi atas barang narkoba itu. Nanti kamu akan mendapat surat  panggilan sebagai saksi,” katanya. Aku tak bisa berkata apa-apa. Hari itu juga aku bergegas kembali ke Bandung, setelah Polisi meminta foto copy KTP dan menulis namaku dan alamat  perusahaan bus.
            Rasanya aku lega sekali sudah terbebas dari masalah yang sangat berat dan menyulitkan. Tak dapat kubayangkan, bagaimana kalau barang itu tidak ada yang mengambil, maka aku dituduh sebagai tersangka pemilik barang itu dan urusannya menjadi panjang.
            Istriku kaget ketika kuberitahukan kalau aku sudah berurusan dengan polisi karena mengirimkan barang yang isinya narkoba. Setelah kujelaskan, ia nampak kembali tenang. Bukan apa-apa, istriku paling kapok harus berurusan dengan pihak aparat, termasuk juga aku.
            Sungguh gembira, aku tak dapat panggilan dari polisi sebagai saksi, aku sangat beruntung, sebab aku malas untuk datang lagi ke Medan, apalagi  jarak antara Bandung-Medan, bukan jarak yang dekat. Sementara itu, uang jaminan sebesar lima juta rupiah, tidak diketahui rimbanya, terpaksa aku mengganti setengahnya kepada perusahaan. Aku masih tetap beruntung, sebab kalau harus menjadi saksi, urusannya menjadi berabe. Biar saja aku menggantikan, yang penting aku terbebas berurusan dengan  polisi masalah narkoba.
            Kejadian itu membuat aku lebih berhati-hati mengantarkan barang  yang akan kuantarkan. Aku kapok harus berurusan dengan kepolisian menyangkut narkoba, sebab masalahnya akan menjadi panjang dan hidupku tidak akan tentram. ***Tamat    


Kisah ini dialami oleh Iteng (45 tahun)  sebagai seorang sopir yang mengantarkan barang-barang ke Jakarta. Namun suatu malam, di daerah Karawang ia yang tengah menyopir disetop oleh seseorang yang meminta tolong. Niat baik berujung pertaka, sebab ternyata yang ditolong itu adalah salah seorang  perampok yang membawa kawan-kawan. Dia dirampok oleh 5 orang penjahat dan dibuang ke sungai dalam keadaan tangan terikat. Kernetnya meninggal dunia karena dilemparkan ke sungai yang cukup dalam. Berikut kisahnya diceriterakan oleh Kuswari.  

Kulihat Guruku Berjalan Di atas Air


             
           Pengalaman ini dialami oleh Suparno, yang melihat dengan mata kepala sendiri keanehna gurunya, bisa berjalan diatas air. Gurunya merupakan penggiat dakwah dan ajaran tasauf yang sangat saleh. Banyak keunikan yang dimiliki gurunya, salah satunya adalah mampu berjalan diatas air ketika ada seorang preman yang mengajaknya berkelahi. Preman itu dikenal sebagai raja jalanan yang semua orang takut kepada dirinya. Ia memiliki ilmu kekebalan tubuh, sehingga banyak polisi yang takut berhadapan dengan preman itu. Namun dihadapan Haji Nuh, dia bertekuk lutut tak berdaya. Berikut penuturannya kepada Sdr. Kuswari

            SEMULA aku tidak tertarik dengan tarekat, apalagi harus mengamalkan zikir selama beratus-ratus kali. Aku paling malas untuk mengamalkannya. Aku lebih suka hidup sebagai preman yang bisa makan dan minum seenaknya, bahkan mabok-mabokkan setiap malam. Itu adalah kesenanganku. Aku paling suka kalau diajak minuman keras bersama kawan-kawan. Boleh jadi, akulah tergolong orang yang paling berani dalam minuman keras.
            Aku bekerja sebagai petugas keamanan, yang harus memiliki kemampuan bela diri. Itu karenanya, aku belajar pencak silat, tenaga dalam dan karate. Dengan menguasai ilmu itu, aku merasa percaya diri yang kuat, setidaknya kalau ada yang berani macam-macam aku bisa melawan. Postur tubuhku tinggi besar, sehingga sangat menunjang  pekerjaanku.
            Sebagai Satpam, aku pikir harus memiliki kekebalan tubuh, maka ketika ada yang menawari, tentu saja aku tertarik dan ingin mempelajari ilmu itu. Maka aku pun berguru pada salah seorang paranormal yang memang  mengajari kekebalan tubuh. Aku disuruh mengamalkan/ mewiridkan sala satu ayat suci Al-Quran dan puasa selama 40 hari. Aku jalankan amalan itu, karena aku berkeinginan sekali menjadi orang yang kuat dan tahan terhadap benda-benda tajam. Dengan kata lain, aku ingin menjadi  orang sakti, sebab dengan memiliki kesaktian, setidaknya banyak orang yang takut dan tidak berbuat macam-macam.
           Memang saat menjalani proses ritual, aku merasakan berat sekali, apalagi harus menjalani puasa selama 40 hari, kemudian mebaca zikir yang diulang-ulang dari surat Yasin ayat terakhir. Walaupun demikian berat, namun dengan kesabaran dan keyakinanaku, akhirnya aku bisa menyelesaikan puasa 40 hari. Maka ketika aku ingin mencoba ilmu yang sudah aku beli dengan  tirakat, maka aku pun mencoba mempraktikkan ilmu itu.
            Aku duduk dengan khusyu dan berkonsentrasi penuh, kemudian benda tajam pisau yang sudah diasah, aku tancapkan ke kulitku, sama sekali tidak keluar darah. Aku tekan semakin dalam, namun sama sekali pisau yang tajam itu tidak bisa menembus kulitku. Kemudian aku mengambil gergaji, lalu aku gergaji tangan kiriku, sama sekalu tidak berubah, kulitku tetap seperti semula. Aku tersenyum bahagia, berarti kini aku menjadi orang kuat.
            Rasa penasaran yang tinggi, ingin mencoba pukulanku, maka akupun berkonsentrasi untuk memukul sebuah tembok besar yang tidak jauh dari rumahku. Tadinya aku iseng saja sekedar mencoba. Aku pejamkan mata dan tanganku bergerak untuk memkul tembok. Tiba-tiba  suara terdengar keras sekali, sehingga beberapa orang yang mendengar kaget. Aku sendiri tidak menyangka kalau pukulanku begitu hebat dan ketika aku melihat tembok….aku tercengang…karena tembok itu sudah berlobang besar akibat  pukulan tanganku. Tentu saja melihat begitu, aku semakin percaya diri dan yakin kalau petuah paranormal itu tepat dan sesuai dengan keinginanku.
            Rasa bangga diri dan takabur, secara tidak sadar sering menyelinap dalam kalbu, boleh jadi itu sebabkan karena aku memiliki kekuatan super yang tidak dimiliki orang lain. Pernah suatu ketika ada seorang preman  yang mabok datang ke tempat kerjaku, dia meminta untuk  dengan cara yang tidak sopan. Ia mendatangi karyawan sdi perusahaan. Kebetulan pada saat itu aku ada keperluan keluar, sehingga tidak tahu ada yang memeras.
            Banyak karyawan yang ketakutan melihat orang mabok meminta uang dengan cara paksa. Bahkan pimpinan sempat kewalahan setelah preman itu mengancam akan membawa anak buahnya, apabila tidak segera memberikan uang.
            Aku saat itu ada yang menyusul dan harus segera ke kantor di panggil bosku. Sudah barang tentu aku bergegas ke kantor, sebab panggilan bos merupakan perintah yang harus aku laksanakan. Aku kaget, ketika di ruangan bos sedang duduk preman yang sama sekali tidak aku kenal, dia mengaku berasal dari Banten.
Tentu saja menghadapi orang seperti itu merupakan mangsaku yang harus aku lahap. Maka tanpa pikir panjang, aku angkat preman itu dan sekaligus aku bantingkan ke tanah, seketika dia menjerit dan meminta ampun.
            “Dasar kamu kurang ajar, hayo pergi dari sini…awas jangan sekali-kali mencoba minta uang ke sini,” kataku seraya menendang pantat preman yang ketakutan dan ia langsung lari tunggang langgang.
            Tentu saju dengan tindakanku seperti itu, aku mendapat acungan jempol dari bosku dan mewanti-wanti agar aku menjaga perusahaan dari tindakan preman yang memang kerapkali ada yang datang sekedar untuk meminta uang.
            Di perusahaan, semua karyawan segan kepadaku, sebab mereka tahu sendiri kalau aku bukan sembarang orang, apalagi pernah suatu ketika, ada lima orang yang sengaja memeras bosku. Mereka membawa senjata tajam untuk sekedar menakut-nakuti. Tentu saja bosku gugup dan hampir saja pingsan menghadapi ancaman benda tajam.
            Ketika aku mendapat laporan begitu, segera saja aku berlari ke ruangan bosku. Betapa aku kaget  ketika bos sedang dalam bahaya, 5 orang itu mengeluarkan senjata clurit dan samurai.
            Tanpa pikir dua kali, seketika aku menantang mereka untuk  berkelahi denganku.
            “Jangan seorang- seorang, semua layani saya. Tapi jangan di sini…ayo kita keluar..!” dengan nafsu mengebu, sebab kulihat bosku ketakutan luar biasa.
Kelima preman itu menatapku tajam dan merasa dihina, lalu salah seorang diantara mereka berkata: “Kurang ajar kamu ini siapa berani melawanku?”
suaranya keras dan menyimpan nafsu amarah di wajahnya. “Ayo kita lawan!”
 Aku lebih dulu keluar  kantor, dan berdiri di lapangan yang agak luas, sebab aku takut kalau terjadi sesuatu yang tidak diindinkan.
            Rupanya karyawan lain pun mendengar keributan itu, sehingga  suasana langsung ramai dan ingin melihat apa yang akan terjadi, sebab perkelahian sama sekali tidak seimbang. Semua wajah karyawan cemas, ketika melihat lima preman itu mengeluarkan senjata tajamnya.
            Tanpa ada rasa takut, aku mencoba  meladeni kelimanya, sebab aku yakin dengan ilmu yang aku miliki, aku bisa mengatasi mereka. Aku bersikap tenang menghadapi mereka.
            Ketika aku sudah berhadapan dengan mereka, aku berteriak lantang sekali:
            “Silahkan kalian memukul lebh dahulu, mana yang kalian suka?”
            Tentu saja mereka bengong . Salah seorang diantara mereka langsung menerjangku dengan membawa clurit tajam mengarah ke wajahku. Aku diam saja, tidak bergerak. Sementara karyawan yang melihat, berdebar-debar, bahkan karyawan perempuan menjerit saat clurit itu kena wajahnya. Namun tiba-tiba,
            “Awww….aduh!” terdengar suara preman itu mengaduh kesakitan, sebab secara aneh, ia sudah terjatuh lebih dahulu. Sementara aku hanya menggerakkan tangan sedikit saja.
            Wajahku tidak apa-apa, bahkan sama sekali clurit itu tidak melukai wajahku. Tentu saja melihat keanehna itu, semua mata terbelalak. Karena penasaran, 4 orang preman itu pun langsung menyerbu kearahku. Aku pejamkan mata ketika benda-benda tajam itu kena ke tubuhku, ada yang kena kepala, tangan, punggung, leher dan perut. Namun semuanya tidak ada artinya, sebab secara tiba-tiba mereka terjengkang ke belakang. Dan mulut mereka semuanya muntah darah di tempat itu,
            Mereka semua berdiri dengan mulut penuh darah segar.
            “Ayo siapa lagi yang mau melawan?” kataku menantang. Aku bersiap-siap sebab khawatir mereka menyerang kembali. Namun  belum juga bibirku basah, mereka kemudian berlarian ketakutan…
            Semua karyawan benar-benar takjub menyaksikan peristiwa yang baru  pertana kali mereka saksikan. Mereka tak mengira kalau aku mempunyai kesaktian yang luar biasa hebat.
            Sejak saat itu, aku menjadi bahan perbincangan di kantor, sehingga bosku memberikan bonus yang cukup besar bisa mengamankan perusahaan dari orang-orang yang sengaja meminta jatah uang.
            Aku merasa beryukur ternyata ilmu kekebalan yang aku miliki banyak sekali gunanya dan semakin mempertebal keyakinanku.
            Namun demikian, namanya juga manusia, kerapkali aku  ada saja kelemahan dalam diriku, aku   terlalu membanggakan diri dan seolah tidak ada orang yang bisa mengalahkan.
            Kesombonganku menyelinap dalam diriku secara tidak sadar, sehingga membuat aku selalu ingin disebut jagoan. Suatu kali, aku pernah kaget dan malu pada diriku sendiri, ternyata ada seorang lelaki yang krempeng, berusia agak lebih tua dariku, aku bertekuk letut di lelaki yang sederhana itu. Aku benar-benar kalah telak, padahal lelaki itu sama sekali tidak membuat gerakan  atau jurus yang menyakitkanku. Aku dibuatnya bengong dan nyaris tidak percaya dengan keajaiban yang dimiliki lelaki itu.
            Dia memang memiliki sebuah majlis ta’lim yang mengajarkan akhlak dan tasauf, yang pengikutnya cukup banyak dari berbagai daerah. Aku memang penasaran dan besar keinginanku untuk menguji sang guru krempeng itu, sebab aku tidak akan mau belajar kepada seseorang yang ilmunya lebih rendah daripadaku.
            Tidak banyak informasi yang aku ketahui tentang Ustad Jafar itu, (bukan nama sebenarnya) namun namanya telah melambung tinggi dan banyak orang yang hormat kepada Ustad Jafar. Ketika aku pertama kali melihat saat diberitahu oleh teman, kuanggap remeh. “Orang krempeng begitu, satu kali gertakan oleh tanganku…langsung terjungkal!”  kataku dengan sombong dan meremehkan.
            Suatu hari lepas ashar, aku sengaja ingin mendatangi Ustad Jafar, ingin menjajagi ilmu yang dimilikinya, apakah dia memiliki ilmu yang hebat, sehebat diriku yang kebal dengan benda tajam. Sengaja kupilih hari waktu Ashar, karena biasanya dia sedang beristirahat di rumah.
            Ketika aku datang ke rumahnya, kulihat Ustad Jafar langsung tersenyum dengan ramah, yang tentu saja membuat aku menjadi malu untuk mengajak adu kekuatan ilmu.
            “Alhamdulillah, aku bahagia kedatangan bapak, ayo masuk ke rumah…kebetulan istriku sedang menyiapkan makan sore!” katanya mempersilahkan aku masuk ke dalam rumah.
            Rumah Ustad Jafar sangat sederhana dan terbuat dari bambu, namun cukup luas. Di depan rumahnya ada kolam ikan yang cukup luas. Banyak ikan di kolam itu. Di belakangnya adalah kebun yang banyak ditumbuhi berbagai tanaman. Suasana sangat sejuk berada di daerah itu.
            “Terima kasih!” kataku singkat karena dalam lubuk hati yang paling dalam aku sesungguhnya merasa malu sebab dia begitu ramah dan langsung mengajak makan sore.
            Aku pun masuk dalam rumah yang  sederhana itu. Di rumahnya kulihat banyak sekali kitab-kitab kuning serta beberapa foto tokoh ulama diantaranna Syekh Abdul Qadir Jaelani.
           “Bagaimana kalau kita makannya di kolam , agar lebih enak dan nikmat,” kata Ustad Jafar setelah aku duduk.
            Kupikir yang dimaksud adalah makan di pinggir kolam, maka aku pun menyangupinya.
            Ustad Jafar kemudian menyuruh istrinya agar membawa nasi dan lauk pauknya ke luar. Ustad Jafar pun membawa  tikar pastik. Aku hanya memperhatika saja.
            Ketika sudah ada di dekat kolam, Ustad Jafar lalu melempar tikar ke kolam. Aku heran dengan caranya; apa yang akan dilakukannya. Tikar yang dilemparkan ke kolam itu, langsung membentang dan sama sekali tidak tenggelam. Beberapa saat aku melongo. Tidak lama kemudian, Ustad Jafar  mengambil nasi dan lauk pauknya, lalu di lemparkan ke kolam yang sudah ada tikarnya.
            Aneh sekali, nasi dan lauk pauk itu sudah berada di tengah kolam. Namun sama sekali tidak tenggelam.
            “Yuk kita makan di tengah kolam?” ajak Ustad Jafar seraya melangkahkan kaki berjalan di atas air. Dia berjalan seperti di atas tanah saja, sama sekali tidak tenggelam.
            Aku terbelalak melihat peristiwa ajaib yang baru pertama kali aku lihat itu. Seumur hidupku, inilah keanehan yang luar biasa. Mataku tak berkedip ketika Ustad Jafar terus melangkahkan kaki menuju ke tengah kolam dan duduk di atas tikar yang sudah tersedia nasi dan lauk pauk.
            “Ayo ke sini? Makan enak di sini?” kata Ustad Jafar yang terlihat tenang dan tanpa sedikit pun ada perubahan dalam dirinya. Ia seolah terbiasa makan di tengah kolam.
            Aku menjadi gugup dan bingung. Ilmu yang kumuliki ternyata belum sampai ke sana. Aku ternyata tidak ada apa-apa dibandungkan dengan Ustad Jafar.
            “Lho kenapa menjadi bengong? Ayo ke sini?” ajaknya lagi.
            Aku diam seribu bahasa, bingung apa yang harus aku lakukan. Padahal aku datang ke sini bertujuan ingin menjajagi  ilmu yang dimiliki Ustad Jafar, tetapi baru juga melihat keajaiban itu, aku tak bisa berbuat  banyak.
            Beberapa kali Ustad Jafar mengajak, aku diam saja di pinggir kolam. Aku merasa malu sekali, aku seperti tidak berdaya. Kakiku seperti sulit untukdigerakkan.
            Tiba-tiba, tikar yang diduduki Ustad Jafar bergerak mendekati aku yang masih berdiri di pinggir kolam. Aku semakin terbelalak saja melihat keajaiban itu.
            “Sesungguhnya aku sudah tahu, kamu datang  ke sini itu mau apa?” katanya dengan mata menatap kearahku. Aku tak mampu menatap wajahnya, apalagi matanya yang bersinar terang seolah matahari.
            Aku tertunduk malu.
            “Orang yang hebat itu bukan orang yang jago berkelahi dan bisa mengalahkan banyak orang lain. Kamu itu sebenarnya bukan orang yang hebat karena bisa mengalahkan banyak orang, tetapi sebenarnya kamu orang yang diperbudak oleh setan. Buktinya kamu tidak ada apa-apanya,” katanya.
            Aku kembali tertunduk malu sekali, seakan aku tidak memiliki wajah.
            “Sehebat apapun kamu, sebenarnya kamu tidak ada apa-apanya. Orang yang kuat dan hebat itu, bukan karena bisa mengalahkan orang lain, tetapi orang yang bisa mengalahkan hawa nafsu. Maka kamu harus bisa mengalahkan hawa nafsu dalam diri kamu, maka kamu akan menjadi hebat dan kuat,” katanya.
            Nasihat itu terasa bagaikan air yang masuk ke dalam tenggorokan yang haus. Aku baru menyadari, bahwa aku sebenarnya tidak ada apa-apa. Kekuatan tubuhku, bukanlah untuk dijadikan  kesombongan, apalagi untuk pamer kekuatan dan mengalahkan orang lain.
            “Kamu akan menjadi hebat dan orang akan bangga dengan kamu, kalau ilmu yang kamu miliki bermanfaat bagi orang lain. Nah sekarang aku mau bertanya; apa manfaat yang kamu peroleh dengan ilmu yang kamu miliki itu?”
            Aku menggelengkan kepala.
            “Jadi kalau begitu, ilmu kamu akan menjadi bahaya bagi kamu, bahkan kamu akan dimintai pertanggungjawab dihadapan Allah dengan ilmu yang kamu miliki. Maka ilmu kekebalan yang kamu miliki berasal dari setan, sedangkan setan itu mengajak manusia ke jalan yang sesat. Sampai kapan kamu akan bertobat?”
            Kembali aku terdiam. Aku tak bisa berbuat apa-apa dihadapan Ustad Jafar, aku merasa kecil dan tidak berarti sama sekali. Aku benar-benar tersudutkan dengan ucapan beliau yang sangat menusuk hati.
            Nasihat yang disampaikan Ustad Jafar benar-benar telah mengubah jalan hidupku. Aku  baru menyadari kalau memang beliau adalah guru yang patut ditiru dan diikuti ajarannya, sebab  yang diajarkan beliau adalah mendekatkan diri kepada Allah Swt. Pantas kalau banyak jamaah yang berdatangan dari berbagai tempat, karena aku  melihat sendiri keajaiban yang dimiliki beliau.
            Aku berusaha untuk menjadi orang yang bertobat dan mengenal secara lebih mendalam ajaran Islam. Aku ingin berjalan kepada Ustad Jafar  menjadi manusia yang berguna di dunia dan akhirat.
            Berkali-kali aku mengucapkan terima kasih kepada Ustas Jafar yang telah membuka jalan hidupku kearah yang benar, kearah yang diridhoi Allah Swt. Aku tak ingin menjadi preman dan jeger  yang tidak tentu jalan hidupnya. Aku kini menjadi seorang muslimin yang taat dan saleh menjalankan sunah Rasul.
            Bulan ramadhan ini, semoga hidayah dan karunia semakin banyak dilimpahkan kepada diriku; sebab aku yakin dengan semakin mendekatkan diri kepada Allah, maka Allah akan membukakan jalan hidupku.***Tamat
           
           
              
 
 

Setelah Mati Aku Hidup Lagi


            Boleh percaya atau tidak, ada orang yang telah diyatakan mati namun tiba-tiba dia hidup kembali. Aneh memang, tetapi itulah realitas yang dialami oleh Zakaria. Sebut saja namanya begitu Semua warga menyaksikan  kalau dia telah dikuburkan, namun tanpa di duga seminggu kemudian dia sudah berada di pematang sawah. Tentu saja kampung yang terletak di Kab. Banjar  itu menjadi geger, kaget dan Zakaria dianggap sebagai hantu. Bagaimana kisah nyata ini terjadi? Berikut penuturannya kepada Sdr. Kuswari

            MUSTAHIL, barangkali itulah kata yang tepat yang dialami oleh diriku sendiri. Aku sendiri bingung dan tidak mengerti, bagaimana aku bisa kembali ke alam dunia, padahal aku sudah mati dan dikuburkan. Aku sendiri merasakan sakaratul maut, namun tiba-tiba aku sudah tidak ingat apa-apa lagi.
            Aku memang dilahirkan dari keluarga yang taat menjalankan ibadah. Sejak kecil kedua orangtuaku selalu menekankan agar aku melaksanakan shalat dan mengaji di madrasah yang tidak terlalu jauh dari rumahku. Aku rajin mengaji Al-Quran dan seringkali mendengarkan pengajian dari para ulama yang ada di daerhaku. Sedikit demi sedikit aku memahami makna hidup di dunia ini yaitu beribadah kepada Allah.
            Keluargaku bukanlah orang yang berada, sehingga aku tidak di sekolahkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, aku sekolah hanya sampai SMP, itu pun tidak tamat karena keterbatasan orangtuaku membiayai. Aku terpaksa  ikut berjualan bersama bapak yang memang sebagai pedagang keliling. Kepahitan hidup sudah aku alami, namun demikian ayah selalu menekankan agar aku tetap rajin beribadah, karena memiliki harta yang banyak bukanlah jaminan hidup bahagia. “Dengan taat kepada Allah, kita telah menjadi orang yang  kaya hati ndan hidup tenang,” ujar bapakku.
            Beranjak dewasa aku pun bekerja sebagai pesuruh di salah satu pedagang yang terbilang  sukses di daerahku. Di situlah aku mengalami berbagai keganjilan, sebab setelah beberapa  bulan bekerja di situ, aku melihat kalau majikanku suka sekali membuat sesaji di malam jumat, pada sebuah tempat di belakang rumah. Aku tadinya mengangap kalau majikanku yang bernama  Raden Ahmat (bukan nama sebenarnya) memang sudah terbiasa memberikan sesaji. Di daerahku memberikan sesaji di malam jumat, bukanlah suatu hal yang aneh, sudah menjadi tradisi percaya kepada roh halus.
            Namun yang membuatku heran dengan Den Ahmat itu, sebab dia tidak pernah sama sekali sholat, bahkan selama aku bekerja di rumahnya, aku melihat kalau dia sangat anti menyebut kata “Alloh”, bahkan kalau aku sholat pun dia seperti melarangku. “Buat apa sholatm toh tidak sholat juga, bisa kaya!”  Kupikir dia memang picik sekali dalam masalah agama, bahkan terkadang melecehkan.
            Tetapi aku melihat sendiri, kekayaan yang dia kumpulkan luar biasa banyaknya, bahkan nyaris aku sama sekali tidak percaya kalau Raden Ahmar memiliki gudang penyimpanan emas. Aku pernah melihat  emas dan intan berlian di gudang itu. Dia sendiri memegang kunci lebih bari sepuluh buah. Namun yang aku herankan, meskipun dia kaya, tetapi aku lihat dia jarang sekali mandi, sehingga jangan aneh kalau dekat tubuhmu, terasa sangat bau sekali.
            Aku sebenarnya sudah tidak mau bekerja di rumahnya sebagai pesuruh. Namun karena tidak ada lagi pekerjaan lain, aku terpaksa menjalani. Memang gaji yang kuperoleh tiap bulan cukup memenuhi kebutuhan sehari-hari, bahkan sedikit demi sedikit aku bisa membeli tanah untuk membangun rumah. Kemudian membeli perabotan rumah tangga. Itu sebabnya, di satu sisi aku merasa beruntung bisa bekerja di Raden Ahmat, tetapi di sisi lain, aku tidak suka sikapnya yang kadang-kadang suka marah-marah kalau ada kesalahan sedikit saja. Aku mencoba untuk sabar menghadapi majikanku itu.
            Setiap pagi harus sudah membuka toko kelontongan  yang menjual berbagai kebutuhan hidup sehari-hari. Sebagai agen besar di daerah itu, banyak warga desa yang membeli ke toko itu, kemudian mereka menjual lagi ke konsumen.
            Aku mengetahui tentang Raden Ahmat ini karena satu kampung denganku. Dia memang sejak kecil hidupnya sangat miskin, bahkan ketika meninggal dunia kedua orangtuanya, dia hidup terlunta-lunta tidak menentu, sehingga akhirnya ada bibinya yang mau memelihara.
            Dia menikah dengan perempuan yang masih satu kampung. Setelah menikah, beberapa bulan kemudian, terjadi keanehan pada dirinya, sebab tiba-tiba ia menjadi orang yang kaya mendadak. Dengan-dengar sih katanya dia sukses menjadi agen toko kelontongan, namun ada juga bisik-bisik kalau dia itu ikut pesugihan di daerah Jawa Tengah dan sejak itu hidupnya subur dan makmur.
            Aku sendiri tidak peduli dengan pesugihan yang dilakukan Raden Ahmat, sebab bagiku tidak ada masalah, yang penting aku bekerja di toko miliknya dan mendapatkan gaji tiap bulan dengan halal.
            Sebelum aku bekerja  bersama Raden Ahmat, aku  pernah dengar ada yang pernah bekerja dengannya, yang juga sebagai  pesuruh,  namun tidak lama  dia meninggal dunia karena terjatuh dari lantai dua. Warga sendiri tidak curiga dengan kematian yang dialami oleh pembantu itu, sebab dianggap wajar-wajar saja.
            Memang sebelum aku bekerja di sana, beberapa orang pernah mengingatkan, namun aku tidak peduli, sebab saat itu aku sangat butuh sekali uang untuk kebutuhan nafkah sehari-hari. Apalagi anakku yang pertama masuk ke SD, sehingga butuh untuk membeli pakaian seragam, buku dan bayaran sekolah,
            Aku sendiri tidak merasa takut mendengar kabar pesugihan yang dilakukan Raden Ahmat, bahkan aku menjadi penasaran, dengan praktik menjadi kaya seperti itu. Aku yakin sepenuhnya, kalau Allah Swt, senantiasa akan melindungi hamba-Nya yang taat dan tunduk menjalankan perintah Allah Swt.
            Itu karenanya, aku tetap menjalankan sholat dan memperbanyak zikir selama bekerja di Raden Ahmat. Aku ingat nasihat orangtuaku, agar selalu memperbanyak  ayat kursi agar tidak ada gangguan  setan kepada diriku. Aku menjalankan amant bapakku, dan memang selama aku bekerja tidak ada suatu gangguan yang berarti pada diriku.
            Namun suatu ketika aku merasakan ada hal yang aneh pada rumah Raden Ahmat, ketika aku disuruh untuk menjaga rumahnya karena dia ada  keperluan bisnis ke Jakarta. Malam itu setelah sholat Isya di rumahnya, aku merasakan suasana yang benar-benar menakutkan, bahkan aku melihat ada makhluk halus yang berusaha mengangguku. Tentu saja aku kaget, sebab baru pertama kali aku berhadapan dengan hal-hal yang gaib.
            Tetapi aku berusaha melawan makhluk halus itu, sekuat tenaga yang ada pada diriku. Kulihat dia sepintas berkelibat di hadapanku ketika waktu sudah menunjukkan tengah malam. Aku terperanjat bukan main, apalagi tiba-tiba aku mendengar suara yang cukup keras;
            “Nyawa kamu akan saya ambil sebagai tumbal?”
            Mendadak bulu kudukku berdiri.
            “Kamu ini siapa?” aku membentak menanyakan kepada suara itu.
            “Ha..ha..kamu berani membentakku hah?”
            “Kamu pasti setan yang ada di rumah ini. Aku tidak takut dengan kamu, sebab kamu adalah makhluk yang dikutuk  sama Allah Swt..” kataku dengan secara keras, sebab secara tidak kuduga aku mempunyai kekuatan besar untuk melawan setan itu.
            “Memang aku makhluk yang dikutuk, namun aku akan berusaha untuk mengambil nyawa kamu…sebab kamu adalah tumbal di rumah ini..”
            “Hai setan, yang menghidukan dan mematikan itu bukanlah kamu, tetapi Allah Swt. Aku akan melawan kamu dengan kekuatan  yang ada pada diriku,” kataku seraya membaca ayat kursi yang sudah kuhapal.
            “Berhenti, kamu jangan membaca ayat kursi di rumah ini, sebab aku paling membenci dengan ayat itu. Kalau kamu tidak menghentikan maka kamu akan saya  bunuh,”
            Ada hembusan yang keras terasa  menerpa  tubuhku, sehingga aku terjatuh ke lantai. Aku berusaha melawan dengan terus mebacakan beberapa ayat suci Al-Quran. Namun rupanya setan yang menyerang bukanlah seorang, mungkin puluhan, sehingga aku tak kuasa menahan serbuan mereka yang gencar.
            Namun di saat terjepit itulah, aku merasakan ada kekuatan besar dalam diriku untuk melawan setan-setan itu. Dengan sekuat tenaga aku terus meneriakkan kalimat “Allahu Akbar” sekeras-kerasnya, sehingga secara perlahan aku melihat bayangan, mereka berlarian tunggang langgang.
            “Hari ini aku mengakui kalah…tapi ingat, kamu akan tetap saya bunuh…kamu akan saya bawa ke kerajaanku..” katanya seraya suara itu menghilang.
            Aku menarik napas panjang, rasanya seperti baru terlepas saja dari perang yang sangat hebat. Hampir saja, aku tak kuasa menahan serbuan mereka yang begitu gencar. Aku masih merasakan sakit di sekujur tubuhku, ketika aku mencoba bangkit. Berulangkali aku mengucapkan istigfar dan berupaya untuk menahan sakit.
            Aku bergegas masuk ke kamar mandi, lalu aku mengambil air wudhu untuk melaksanakan shalat malam. Aneh setelah selesai berwudhu, mendadak  rasa sakitku hilang  seketika. “Subhanallah…berarti setan yang membuat aku terasa sakit itu,” kataku.
            Malam itu aku melaksanakan shalat tahajud. Meski terdengar suara di dapur barang-barang yang jatuh serta berkelebatan bayangan makhluk halus, namun aku berupaya tenang menghadapi semua itu. Aku semakin yakin, kalau di rumah ini, tempat bersemayam  makhluk halus yang jahat, yang ingin membunuh manusia dengan keji. Aku  semakin tahu, kalau Raden Ahmat benar-benar sudah menyembah kepada  setan, ia memperoleh kekayaan dengan jalan yang tidak halal.
            Timbul keraguan dalam diriku, apakah selama ini aku memakan barang yang haram atau syubhat? Apakah tidak lebih baik aku keluar saja bekerja agar aku tidak menjadi korban tumbak Raden Ahmat. Kegelisahanku semakin tak dapat dikendalikan, terutama bila aku ingat, kalau selama ini majikanku adalah pemuja setan.
            Namun untuk keluar bekerja aku  bingung mencari lagi, sebab sekarang mencari kerja sangatlah sulit, bahkan di kampungku banyak pemuda yang mengaggur, meski pendidikan mereka lebih tinggi dariku.
            Aku mencoba untuk sabar bekerja di toko milik Raden Ahmat. Aku semakin mendekatkan diri kepada Allah. Aku bersembunyi-sembunyi untuk melaksanakan shalat atau mengaji Al-Quran. Sementara Raden Ahmat pun semakin memberikan perhatian yang besar terhadap diriku. Bahkan ketika ia pulang dari Jakarta, ia membawa makanan dan memberi uang yang cukup besar.
            Ketika aku ceriterakan persitiwa yang dialami pada malam hari, Dia hanya tersenyum: “Ah nggak apa-apa, rumahku memang sangat disukai makhluk halus, namun mereka semuanya baik dan nampaknya senang kepada kamu!”
            Aku hanya diam saja mendengar itu, meski aku bertanya-tanya dalam hati, apakah memang sengaja Raden Ahmat itu menjebakku dan menumbalkan aku kepada makhluk halus?
            Di rumah aku menceritakan peristiwa itu kepada istriku, tetapi istriku karena pernah belajar di pesantren, hanya berkata  :”Kita harus yakin kepada Allah, sebab kita bekerja adalah ibadah demi membiayai kebutuhan sehari-hari. Tidak perlu dikhawatirkan tentang  kematian, semua  berada di tangan Allah Swt,”
            Istriku tetap mendorong untuk rajin bekerja di toko Raden Ahmat sebab selama ini sudah terasa banyak membantu, bahkan rumah secara kecil-kecil bisa dibangun diatas lahan yang Cuma 2 tumbak.
            Namun rupanya, gangguan terhadap diriku belumlah berakhir. Aku masih ingat ucapan makhluk halus itu, kalau aku dijadikan tumbal dan tidak lama lagi akan menemui ajal.  Aku tentu saja semakin giat beribadah dan rajin berzikir setiap malam untuk mengusir gangguan setan dan meminta perlindungan kepada Allah Swt.
            Tetapi suatu hari ketika aku pulang bekerja, mendadak tubuhku terasa panas sekali dan perut sangat mual. Aku menduga mungikin kecapaian karena siangnya aku banyak pekerjaan di toko yaitu mengangkut barang-barang yang dipesan pembeli. Aku mendapat uang tambahan yang cukup besar dari Raden Ahmat selesai mengerjakan tugas, tetapi malam harinya mendadak  aku kepayahan dan merasakan sakit di sekujur tubuh.
            Sampai malam, badanku terasa panas. Aku berusaha untuk melaksanakan shalat isya sekuat mampu. Aku hanya mampu berbaring dengan napas yang terasa sesak. Wajah istri dan kedua anakku nampak pucat melihat keadaanku yang mengkhawatirkan. Istriku segera memanggil mantri di Puskesmas. Menurut mantri, aku terkena demam yang tinggi. Setelah diberi obat, rasa sakit sedikit berkurang dan aku bisa tidur.
            Namun tengah malam, aku terbangun sebab aku merasakan tubuhku seperti tertindih batu yang sangat berat.  Napasku hampir habis. Istriku terbangun ketika melihatku kepayahan. Berulangkali aku berteriak “Allahu Akbar” sekuat tenaga, sebab  leherku seperti dicekik tali yang sangat kuat.
            Ketika aku terbangun aku melihat sesosok makhluk besar yang wajahnya menyeramkan. Giginya keluar dengan tajam. Rupanya sangat buruk dan tercium bau yang membuat aku mau muntah. Tanganku mencekik leherku sekuat tenaga, namun aku tetap dalam hatiku berzikir sebanyak-banyaknya, sebab aku yakin makhluk itu akan mengambil nyawaku.
            “Kamu memang sangat kuat, namun sekarang batas waktunya kamu harus menjadi tumbal!” suaranya besar dan menggeram.
            Aku kepayahan karena cekikakannya sangat kuat sekali. Aku terus berdoa dalam hati. Aku berusaha untuk melawan makhluk halus. Namun kurasakan semakin aku  melawan, ia semakin kuat mendekap seluruh wajahku, sehingga napasku kehabisan.
            Kulihat istriku memanggil-manggil namaku dan memegang tanganku. Tiba-tiba aku merasakan tubuhku seperti terangkat keatas dan dibawa oleh makhluk halus itu. Aku tetap berzikir dan konsentrasi penuh memohon pertolongan Allah.
            Aku hanya mendengar istriku menangis histeris, disusul oleh anak-anakku. Aku melihat mereka memeluk tubuhku. Aku berusaha untuk menenangkan mereka, namun ternyata aku sudah berada di alam yang berbeda dengan istriku.
            Kulihat banyak tetangga yang berdatangan ke rumah dengan linangan air mata. Aku baru menyadari kalau aku sesungguhnya telah meninggal dunia, namun aku masih penasaran, benarkah aku sudah mati? Tetapi aku merasakan kalau tubuhku melayang-layang di udara dan segera di bawa ke sebuah tempat yang sangat jauh sekali.
            Aku tidak entah berapa lama, namun ketika aku terbangun aku sudah berada di sebuah istana kerajaan yang sangat mewah dan megah. Rasanya aku seperti mimpi, sebab baru pertama kali aku berada di istana kerajaan yang luar biasa hebatnya.
            Hatiku tidak lepas tetap berzikir menyebut asma Allah dan berulang-ulang mengucapkan “La ilaha illallah” selama berada dalam istana.
            Tiba-tiba aku dijemput oleh dua makhluk yang rupanya sangat menakutkan. Aku dibawa oleh mereka ke sebuah ruangan yang cukup besar yang disitu terlihat ada kursi yang megah dan duduk seorang makhluk halus  dengan wajah yang sama-sama menyeramkan. Kulitnya serba hitam dan nyaris aku ingin muntah melihat wajahnya yang sangat mengerikan.
            “Coba bawa orang ini ke sini?” teriak makhluk yang duduk di kursi, yang belakangan aku tahu, kalau dia adalah rajanya di istana itu.
            Aku terus berdoa kepada Allah dan tidak lepas untuk terus menyebut asma Allah.
            Ketika aku dihadapkan kepada raja, tiba-tiba istana itu mendadak bergoyang. Tentu saja Raja itu sangat kaget, sebab baru pertama kali mengalami peristiwa ini.
            “Kenapa istanaku bergoyang begini?” tanyanya kepada pengawal yang ada di situ.
            Mereka semua bergegas mencari sebab istana bergoyang. Namun mereka tidak menemukan penyebab istana mereka bergoyang.
            Aku tetap berzikir kepada Allah sebanyak-banyak, sebab aku yakin mereka akan menjadikan aku sebagai tumbal di istana itu.
            “Hai manusia, tahukah kamu kenapa kamu dibawa ke sini?” tanyanya.
            Aku menggelengkan kepala.
            “Kamu itu sudah diincar untuk menjadi tumbal, karena majikan kamu sudah menyerahkan nyawa kamu untuk dijadikan syarat agar dia tetap menjadi orang yang kaya,”
            Aku terperanjat mendengar penyataan itu. Kemudian, dia berkata lagi:
            “Nah, sekarang kamu akan dibunuh di Istana ini, kamu harus menyembah kepadaku,”
            “Aku tidak mau menyembah kepada kamu, sebab kamu adalah makhluk yang sangat dibenci Allah. Aku hanya menyembah kepada Allah, sampai kapan pun aku akan tetap menyembah kepada yang menciptakan aku,” kataku dengan lantang.
            Aku kemudian membaca ayat kursi dengan keras di ruangan itu. Mendadak istana kerajaan bergoyang sangat hebat, sehingga semua pengawal dan raja ketakutan mendengar ayat suci dibacakan.
            “Wah! bahaya kalau dia dibiarkan terus, istana kita akan hancur.!” ucap raja dengan penuh rasa ketakutan melihat beberapa bangunan sudah retak dan ada lampu-lampu mulai berjatuhan.
            “Jadi apa yang harus kita lakukan?” tanya para pengawal.
            “Segera dia usir dari istana ini, sebab ucapan yang dibacakan oleh orang itu sangat berbahaya bagi kita. Itu adalah kalimat sakti  yang tidak lama lagi, kita akan hancur. Maka segera bawa pergi orang itu, kembalikan dia ke bumi…agar kita tetap selamat!”
            Aku lalu dibawa oleh mereka dengan cepat keluar istana kerajaan. Suasana menjadi ramai di kerajaan, sebab banyak makhluk halus yang mendadak  ketakutan mendengar ayat kursi dibacakan.
            Secepat kilat aku dibawa ke sebuah tempat yang sangat jauh sekali. Aku sendiri tidak tahu, bagaimana mereka membawaku, sebab yang kutahu tiba-tiba setelah sadar aku berada di pematang sawah.
            Aku masih ingat saat itu, beberapa petani sedang panen padi. Tentu saja mereka kaget ketika melihat ada manusia yang sedang berbaring, tidak jauh dari mereka. Aku segera terbangun ketika aku  sudah berada di alam  dunia.
            Ketika bangun, tidak jauh dari situ ada nasi yang disimpan di boboko (boboko, sunda). Tentu saja karena aku sudah beberapa hari tidak makan, melihat nasi yang masih hangat, segera saja aku ambil boboko itu, lalu aku makan dengan lahapnya. Lauk pauk, tahu dan tempe yang disitu pun, aku sikat dengan lahap, karena aku merasa lapar sekali.
            Beberapa orang petanui yang hapal denganku, segera saja berteriak ketakutan sambil menyebut ada hantu di siang hari. Rupanya teriakan petani itu menyebar ke seluruh  kampung, sehingga dalam sekejap saja, warga desa sudah  berkumpul dan masing-masing membawa senjata tajam. Mungkin mereka berjaga-jaga takut terjadi apa-apa.
            Aku asyik saja makan, sementara tidak aku duga kalau ternyata kampungku menjadi ramai dan menuju kearahku yang sedang asyik makan.
            Tentu saja aku kaget, ketika beberapa tetangga yang aku kenal bengong dan terbelalak matanya sebab melihat aku utuh.
            “Kamu bukannya telah mati….mengapa kamu ada di sini?”teriak Ustad Jamil yang memang kenal denganku. Dia sendiri yang menguburkan aku.
            “Kamu hantu bukan?” beberapa orang berkata begitu.
            “Aku bukan hantu. Aku adalah manusia. Mana istri dan kedua anakku, suruh mereka datang ke sini?” tanyaku.
            Istri dan kedua anakku yang kebetulan berada di situ, terlihat agak ketakutan, namun terpancar kegembiraan, sebab aku masih hidup. Warga masih bengong dengan kejadian yang menimpa diriku.
            Suasana terasa sangat tegang. Untung saja, Ustad Jamil mendekatiku dan berkata sekali lagi.
            “Benarkan kamu ini   Asep…bukankah kamu ini sudah mati dan dikuburkan?”
            “Aku Asep…aku sebenarnya belum mati, sebab aku dibawa oleh makhluk halus?”
            “Jadi yang di kubur itu siapa?” tanya Ustad Jamil.
            “Begini saja sekarang, mari kita lihat ke kuburan, gali kuburan itu. Benarkan mayaku atau bukan?” kataku lantang.
            Meski masih ragu, namun kulihat istriku mulai berani mendekati.
            “Bu, aku bukan hantu…aku adalah suami kamu” kataku.
            Tiba-tiba istriku langsung saja berlari mendekati dan merangkulku dengan menangis penuh kegembiraan. Demikian pula dengan anakku.
            Wajah warga kampung masih diliputi rasa penasaran, sebab baru pertama kali terjadi ada peristiwa ganjil yang mengherankan.
            Semua warga berjalan menuju kuburan.Beberapa orang masih tidak percaya melihat aku. Mereka yakin kalau aku sudah meninggal dunia seminggu yang lalu. Tapi mengapa sekarang ada di sini dengan tiba-tiba.
            Setelah tiba di kuburan, tiga orang disuruh  menggali  kuburan oleh Ustad Jamil.
            “Semua warga harus melihat, apa sesungguhnya yang di kubur itu, aku atau bukan?” kataku dengan suara keras.
            Dengan suasana tegang dan masih diliputi rasa penasaran, semua warga menyaksikan penggalian kuburan.
            Tidak lama, 3 orang penggali kubur itu sudah bisa mengangkat mayit ke atas.
            “Nah, sekarang lihat, apakah mayit atau bukan ?” kataku.
            Kemudia mayit yang tertutup kain kapan itu dibuka secara perlahan-lahan. Betapa warga kampung terbelalak  ketika kain kafan telah dibuka…sebab yang dibungkus kain kafan itu bukan manusia, tetapi……. pohon kelapa!
            Tentu saja mereka tidak habis pikir, mengapa peristiwa itu bisa terjadi diluar akal sehat mereka.
            Ketika warga semua sudah melihat bahwa yang dibungkus kain kafan itu adalah pohon pisang, segera saja warga berebut bersalaman denganku dan merangkul, sebab mereka yakin kalau aku masih hidup.
            Banyak pertanyaan yang diajukan kepadaku. Aku tidak banyak memberi jawaban,”Nanti saja, aku akan jelaskan semuanya, mengapa aku bisa begini…ini adalah keajaiban yang luar biasa…” kataku seraya berjanji nanti malam di mesjid  aku akan berceritera terus terang mengapa aku bisa hidup kembali.
            Tentu saja masyarakat penasaran ingin segera mendengar kisah yang aku alami, sampai-sampai aku bisa hidup kembali, padahal jelas mereka menyaksikan sendiri kalau aku sudah di kubur.***Tamat